KISAH GEMBALA DAN SAPINYA
Oleh Endang Firdaus
Dahulu kala, hiduplah seorang gembala. Ia mempunyai ibu tiri yang tidak menyukainya. Ibu tirinya itu kemudian mengusirnya. Ia pun pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Ia membawa sapi kesayangannya dan tongkat saktinya.
Si Gembala dan sapinya tiba di sebuah sungai. Di sungai itu ada lima orang gadis cantik sedang mandi. “Mereka para bidadari,” kata si Sapi pada si Gembala. “Bagaimana kalau kau menikah dengan salah seorang dari mereka?”
Sebelum si Gembala menjawab, sapi itu telah berlari ke tempat pakaian para bidadari diletakkan. Ia mengambil sebuah pakaian dengan tanduknya. Para bidadari yang melihat itu amat ketakutan. Mereka keluar dari sungai dan cepat berpakaian. Seorang bidadari tertinggal karena tidak dapat menemukan pakaiannya. “Jangan cemas,” kata si Gembala. “Aku akan membantumu menadapatkan pakaianmu. Tapi sebelumnya kau harus berjanji untuk mau menikah denganku.”
Bidadari itu untuk mengangguk setuju. Si Gembala kemudian mengejar sapinya untuk mengambil pakaian si Bidadari. “Tuan,” kata si Sapi, “kau telah begitu baik padaku. Aku akan memberikan pakaian ini padamu sebagai hadiah perkawinanmu. Bila kau mendapat bahaya atau membutuhkan bantuan, pukulkan tongkat saktimu ke tanah. Maka, aku akan datang untuk membantumu. Selamat tinggal, Tuan!” Sapi itu lalu lenyap.
Waktu berjalan. Si Gembala dan istrinya telah mempunyai seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Meski si Gembala bertambah tua dan rambutnya menjadi putih, namun istrinya tidak pernah berubah. Ia tetap muda dan cantik, sama seperti ketika mereka bertemu. Suatu hari, istrinya bertanya apakah ia dapat melihat pakaian yang dikenakannya saat mereka berjumpa pertama kali. “Mengapa kau ingin melihatnya?” tanya si Gembala.
“Aku hanya ingin tahu apakah pakaian itu masih pas denganku,” sahut si Istri. Si Gembala memberikannya. Istrinya cepat mengenakannya. Ketika selesai, tiba-tiba ia melayang ke angkasa. Si Gembala berusaha menangkapnya, namun gagal. Istrinya dengan cepat tak terlihat lagi.
Berhari-hari si Gembala mencari si Istri. Ia lalu membawa kedua anaknya ke rumah ayahnya. Setelah itu ia pergi ke tempat lain. Ia lalu teringat akan perkataan sapinya. Segera dipukulkannya tongkat ke tanah. Serunya, “Sapiku, bantulah aku mendapatkan istriku!”
Terjadilah ledakan, diiringi dengan munculnya asap biru yang tebal. Si Sapi muncul di hadapan si Gembala. “Jangan bersedih, Tuan,” ucapnya. “Aku akan membawamu untuk menemui ibu dari kedua anakmu. Naiklah ke punggungku dan berpeganglah erat-erat.” Sapi itu menggoyang-goyangkan ekornya. Mereka kemudian melesat ke langit seperti sebuah kapal terbang. Whuuush! Mereka meluncur menuju matahari. Tak lama si Gembala melihat sebuah istana emas. “Itulah istana ayah istrimu,” kata si Sapi.
Si Gembala lalu melihat seorang perempuan berjalan di muka istana. Perempuan itu adalah istrinya. Karena gembira, si Gembala hampir jatuh dari punggung sapinya. “Hati-hati, Tuan!” seru si Sapi. “Jika kau lengah, kau akan jatuh ke bumi!”
Si Bidadari tiba-tiba melepas tusuk rambutnya. Dibuatnya sungai dengan benda itu. “Oh, bagaimana kita dapat melewatinya?” tanya si Gembala.
“Tenanglah,” tukas si Sapi.
Sapi itu menundukkan kepalanya. Ia meminum habis air sungai. Kembali si Bidadari keluar istana dan membuat sungai dengan tusuk rambutnya. “Bagaimana kalau kita buat jembatan?” si Gembala mengusulkan.
“Tenanglah, Tuan.”
Si Sapi sekali lagi meminum habis air sungai. Si Gembala berseru menyuruh si Sapi bergerak maju. “Tunggulah,” jawab si Sapi. “Aku telah minum terlalu banyak. Aku ingin istirahat dulu.” Setelah itu mereka mendekati istana. Si Gembala melihat istrinya memandangi kedatangannya dari jendela.
Si Bidadari lalu kembali membuat sungai dengan tusuk rambutnya. Kali ini si Sapi tak mampu meminum habis air sungai. Ia terkulai mati, lalu jatuh ke bumi. Ayah si Bidadari keluar dari istana. “Hei, Gembala!” serunya. “Apa yang engkau inginkan?”
“Yang Mulia, hamba ingin istri hamba kembali.”
“Istrimu adalah anakku. Ia pergi ke bumi tanpa seizinku. Karena ia tidak patuh padaku, aku tidak dapat mengizinkannya untuk tinggal di bumi lebih lama.” Raja memperhatikan si Gembala. Tiba-tiba ia merasa kasihan. Ia melihat bagaimana kurus dan sedihnya lelaki itu. “Baiklah,” katanya. “Aku masih mengizinkannya menjadi istrimu. Tapi kau hanya dapat bertemu dengannya satu kali dalam setahun, pada hari ketujuh di bulan ketujuh.” Ia lalu masuk ke dalam istana.
Di sore hari, seekor burung jalak terbang melintasi sungai menemui si Gembala. “Kau benar-benar beruntung,” ucap burung itu. “Raja merasa kasihan padamu, karena kau tampak begitu sedih dan sangat berani untuk datang ke tempat ini menemui istrimu. Sungai di hadapanmu adalah merupakan bintang-bintang. Raja telah mengizinkanmu tinggal di salah satu bintang di tepi sungai ini dan istrimu pada bintang di tepi sungai yang lain. Kedua bintang itu akan diberi nama Bintang Gembala dan Bintang Bidadari Melambai.
“Istrimu akan selalu melambai-lambaikan tangannya. Kau akan menjaga sapi-sapi milik Raja. Pada hari ketujuh di bulan ketujuh, kalian dapat bertemu untuk satu malam. Pada malam itu, para burung jalak di seluruh dunia akan datang berkumpul. Mereka akan membuat jembatan dengan sayap-sayap mereka sepanjang gugusan bintang, sehingga istrimu dapat melewati sungai untuk bertemu denganmu.”
Kedua bintang itu dapat dilihat, meski kadang-kadang mereka tidak bersinar dengan terang. Orang-orang di Negeri Cina mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh kesedihan si Gembala dan istrinya, karena mereka tidak selalu dapat bersama-sama. Gugusan bintang yang memisahkan si Gembala dan istrinya dikenal dengan nama Gugusan Bintang Bimasakti.
No comments:
Post a Comment