Friday, May 30, 2014

Motivasi

Soni Long Cardi: Sonia Long Cardi by Jenahara for Zalora. with khaki color, with tassel rope in front, regular fit. Open front cardi, long sleeve. This outer is perfect for your casual or formal look.
Find this cool stuff here: http://zocko.it/LCmbf


Yuk Belajar dari … NYAMUK


Oleh Endang Firdaus


Nguuung…
Plak!
Ian memukul telapak tangannya ke telinganya untuk membunuh nyamuk yang bernyanyi di telinganya. Tak lama, nyamuk kembali datang mengganggu tidur Ian! Ian kesaaal sekali!

Serangga Menyebalkan

Nyamuk, serangga kecil yang menyebalkan. Meski kecil, ia tidak bisa dianggap remeh!
Nyamuk penyebab banyak penyakit pada manusia. Penyakit demam berdarah yang selalu datang saat musim hujan dan sering merengut nyawa penderitanya disebabkan olehnya.
Nyamuk selalu datang menggangu. Meski sudah berkali-kali mengusirnya, ia selalu datang kembali.
Nyamuk mengganggu tidur kita.
Nyamuk menggangu saat menonton TV.
Nyamuk mengganggu ketika kita sedang belajar.
Konsentrasi kita terganggu, karena kita harus mengusir nyamuk yang datang lagi dan datang lagi. Tepuk sana, tepuk sini, begitu yang selalu kita lakukan untuk mengusir nyamuk.

Belajar dari Nyamuk

Belajar dari nyamuk? Apa yang bisa dipelajari dari serangga kecil menyebalkan dan penyebab banyak penyakit itu? Apakah kita akan belajar menjadi pengganggu hebat darinya?
Nyamuk, meski cuma serangga kecil menyebalkan dan penyebab banyak penyakit, punya semangat pantang menyerah. Ia mau mencoba dan mencoba lagi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Kegagalan tidak menjadikan nyamuk patah semangat.
Nyamuk yang mencoba hinggap di tubuh kita, sebenarnya ia berada di ambang maut. Tepukan-tepukan yang kita lakukan untuk mengusirnya bisa menyebabkan ia mati. Tetapi nyamuk selalu dan selalu datang kembali untuk berusaha hinggap di tubuh kita, untuk mendapatkan yang diinginkannya: menghisap darah kita untuk kelangsungan hidupnya.
Lalu …
Semangat pantang menyerah itu yang bisa kita jadikan pelajaran dari nyamuk. Jika gagal, coba lagi dan coba lagi. Orang bijak berkata, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
Harapan mendapat yang diinginkan selalu ada.
Harapan meraih cita-cita selalu ada.
Harapan berhasil selalu ada.
Harapan maju selalu ada.
Hari ini gagal, besok belum tentu!
Yuk, belajar dari semangat pantang menyerah nyamuk untuk menjadi manusia yang berhasil!

Thursday, May 8, 2014

Kisah Nyata

DI ANTARA HIU-HIU

Oleh Endang Firdaus

Udara begitu cerah. Dengan boat kecil, Bramanca meninggalkan Ketapang, menuju Tanjungpandan. Sebuah kompas dan satu walky-talky mendampinginya. Enam mil ke tujuan, mendadak langit gelap. Hujan turun amat lebat. Angin bertiup kencang sekali. Jarum kompas berputar. Bramanca merasa ngeri.
Ia kehilangan arah.
Bramanca menyetel radio.
“Mayday, mayday!” panggilnya.
Dan mendapat jawaban.
Sebuah helikopter SAR segera bergerak, dan berhasil menemukan Bramanca. Pilot pesawat, Letnan Sarifudin, dengan cepat menurunkan tangga tali. Bramanca berusaha menjangkau. Ia hampir berhasil apabila ombak besar tak menghantam boat. Bramanca terlempar ke geladak. Keningnya menimpa lantai, dan luka. Dan ketika ombak besar kembali menerjang, boat terbalik, dan lenyap.
Letnan Sarifudin menyalakan lampu sorot.
Tak terlihat apa-apa.
Ko-pilot Kusnadi memeriksa bahan bakar. Jarum menunjukkan hampir habis. Tepat jam 6 sore helikopter kembali ke pangkalan. “Kita kembali setelah mengisi bahan bakar,” berkata Letnan Sarifudin.
Bramanca yang mengalami naas terlempar ke laut saat boat terbalik. Beruntung ia memakai jaket pelampung. Tubuhnya baru muncul setelah helikopter pergi. Ia, yang pernah mengikuti latihan penyelamatan di laut, tahu cara menghemat tenaga. Tapi setelah 30 menit ia mulai menggigil. Kakinya terasa kaku. Di antara ombak ia tahu akan sulit bagi team SAR menemukannya. Sementara, luka di keningnya terus mengucurkan darah. Bramanca tahu hal itu dapat mengundang datangnya kawanan hiu. Ia harus menyelamatkan hidup. Ia tak mau menyerah. Kalau memang harus mati di sini, doanya. Tuhan, ampunilah segala dosaku.
Tiba-tiba ia merasa satu hantaman keras pada kakinya. Seekor hiu! Bramanca diam. Mereka datang, gumamnya. Mereka pasti kembali. Pukul 10 malam ia merasa jaket pelampungnya mulai hilang kekuatan. Ia berusaha agar kepalanya berada di permukaan air.
Tetes air hujan ditelannya.
Air laut memedihkan matanya.
Ia berdoa tak putus-putus.
Langit kembali terang.
Bramanca melihat bintang-bintang yang gemerlapan di angkasa. Satu bintang tampak terpisah dari yang lain, bergerak ke arahnya. Mungkin bintang itu menunjukkan padaku ke mana aku harus pergi, pikirnya. Ya, Tuhan, selamatkan hambaMu yang tak punya daya ini.
Selesai mengisi bahan bakar, Letnan Sarifudin membawa helikopter kembali ke tempat kecelakaan. Sebuah helikopter angkatan laut menemani. Pencarian tak membawa hasil. Mereka lalu kembali. Pencarian akan dilakukan esok pagi. Di laut, Bramanca membayangkan angkasa dipenuhi pesawat yang mencarinya.
Tengah malam lewat.
Satu hantaman di kakinya membuat Bramanca seketika panik.
Kembali seekor hiu muncul.
Saat fajar, sekumpulan hiu bergerak ke arahnya.
Seekor hiu sapi menyerang.
Bramanca melawan. Dijejakkan kakinya dan berhasil menghantam kepala si hiu.
“Aku belum ingin mati!” serunya.
Lalu dua ekor hiu sapi kembali menyerang. Keduanya berhasil dihalau oleh jejakan kakinya. Kemudian seekor hiu martil menyerang. Dan berhasil diusirnya. Bramanca sangat ngeri saat hiu biru muncul. Tubuhnya gemetar hebat. Ia lega sewaktu makhluk itu pergi.
Bramanca merasa tenaganya kian lemah. Hiu-hiu itu telah membuat tenaganya terkuras. Luka di keningnya pun kian parah. Sayup-sayup di kejauhan terdengar deru mesin. Lalu dilihatnya sebuah helikopter. Namun segera lenyap dari pandangan. Tak lama muncul kembali. Tampak tengah mengadakan pencarian. Ketika helikopter itu berada pada jarak setengah mil, Bramanca melambai-lambaikan jaket pelampungnya.
Pesawat mendekat.
Lalu berada di atasnya.
Bramanca terus melambai-lambaikan jaket pelampungnya, sambil berusaha agar kepalanya tetap berada di permukaan air. Keluhnya, “Kenapa mereka tak juga melihatku?” Di pesawat, Letnan Sarifudin mengarahkan pandangannya ke bawah, berharap dapat melihat boat Bramanca. Tiba-tiba penglihatannya melihat seseorang timbul tenggelam di antara ombak.
“Lihat ada orang di sana!”
Dikirimnya radio ke kapal penjaga pantai.
Ko-pilot Kusnadi melemparkan alarm asap untuk menuntun kapal penjaga pantai ke lokasi. Di bawah, ia melihat Bramanca berenang mati-matian. Di belakang laki-laki malang itu seekor hiu besar membuntuti. Letnan Sarifudin sangat cemas. Serunya pada kapal penjaga pantai melalui radio, “Cepat! Seekor hiu sedang membuntuti orang itu!”
Kapal penjaga pantai melaju kencang ke tempat Bramanca. Si hiu menjauh. Ketika dekat segera diturunkan tangga. Bramanca berusaha meraih, dan berhasil. Ia bergantungan, tak mampu memanjat. Dua orang turun membantu. Bramanca berhasil dinaikkan ke kapal.
Saat itu pukul 9 pagi.
Berarti, Bramanca telah terapung di laut selama lebih dari 15 jam.
Ia lalu dibawa ke rumah sakit di Tanjungpandan. Setelah sembuh keluarganya membawanya pulang. Katanya pada mereka, “Tak percaya aku bila aku masih hidup. Tuhan, terima kasih.”