Sunday, April 6, 2014

Kisah Nyata

MALAM YANG MENCEKAM

Oleh Endang Firdaus

Di daerah perbukitan sebelah barat daya Mississippi udara senja bulan Oktober begitu dingin. Musim dingin yang datang lebih cepat membuat pemandangan di sekitar Gunung Hewitt amat menakjubkan. Pak Roger U. Lewis dan Pak Joey Deak menatap lepas ke arah rawa-rawa yang ada di bawah bukit. Mereka lalu melihat ke arah pohon-pohon jagung, yang berbaris di sepanjang tepi Sungai Homochitto. Keduanya berada di daerah itu untuk berburu rusa ekor putih. Sebuah tempat bermalam sederhana telah mereka buat di bawah pohon ek.
Selesai makan malam, mereka pergi tidur. Ketika beberapa buah ek berjatuhan, Pak Joey telah tertidur. Namun, Pak Roger belum dapat memejamkan mata. Ia mencoba untuk tidak mendengar suara dengkuran Pak Joey dan suara-suara burung hantu. Dan tidak berapa lama, ia pun tertidur, bermimpi tentang rusa ekor putih, yang tengah melompat gembira di sebuah jalan kecil.
Tiba-tiba Pak Roger terjaga. Ia merasa ada bahaya yang bakal menimpanya. Ia memiringkan badan dengan kepala bertumpu pada sebelah tangan, memikirkan hal-hal yang mungkin akan terjadi. Kemudian sebuah benda yang dingin menyelinap ke punggungnya. Benda yang memiliki permukaan kasar itu pelan-pelan meluncur ke pergelangan kaki. Jantung Pak Roger bergerak cepat dan tubuhnya terasa kaku mendadak.
Ular berbisa! Seketika terlintas di benaknya. Ia teringat dengan dongeng kuno mengenai binatang yang mematikan itu yang mendiami daerah Franklin. Binatang semacam itu adakalanya mempunyai bisa yang dapat membawa maut. Pak Roger tetap saja berbaring dan berusaha tenang sewaktu ular itu berputar. Ia menahan napas. Dan dengan perasaan amat cemas ia mencoba menghilangkan rasa takut, yang mungkin akan merangsang si ular untuk menyerang.
Perlahan ular itu bergerak ke arah paha. Pak Roger merasakan perutnya amat sakit. Butir-butir keringat menetes menuruni dahinya. Ia berdua kepada Tuhan agar memberikan keselamatan pada dirinya dan memohon pengampunan. Bayang-bayang tentang keluarganya melintas di depan matanya. Gerakan maju, yang perlahan dan menggelitik, tiba-tiba berhenti. Si ular diam.
Tak sebuah otot pun yang mengejang ketika Pak Roger mencari cara untuk terlepas dari bahaya. Ia baru saja memutuskan untuk keluar dari kantung tidur, saat si ular bergerak perlahan ke arah pinggul dan kemudian berhenti.
Tak ada gerakan yang dibuat ular itu maupun Pak Roger. Keduanya diam. Pak Roger merasakan lidahnya kelu dan ingin sekali menarik napas yang panjang dan dalam. Kemudian, gerakan menggelitik berdesir di perutnya, ketika si ular mulai membuat gerakan lagi. “Ya, Tuhan, selamatkanlah hambaMu,” doa Pak Roger berkali-kali. Ia berbaring kaku. Jantungnya berdetak kencang sekali.
Perasaan yang menggelitik berlanjut waktu ular itu bergerak ke dada. Tak lama, kepalanya menyentuh janggut, meraba-raba pelipis dan sisi kepala Pak Roger.
Akhirnya, gerakan ular itu berakhir. Pak Roger mendengar suara mendesis yang menjauh. Lalu didengarnya suara lembut gemerisik dedaunan. Ia tetap tegang dan diam seperti mayat, tak tahu berapa jauh sudah si ular pergi.
Ketika fajar muncul, Pak Joey bangun dari tidurnya. Segera ia membangunkan Pak Roger. “Hai, bangun cepat! Lihat, hari telah terang!”
Pak Roger bangkit dan tiba-tiba, “Ular!”
“Apa?” tanya Pak Joey. “Di sini tidak ada ular.”
Pak Roger, yang masih dicekam perasaan takut, mencari-cari ular itu. Setelah itu ia membuka kantung tidur yang basah oleh keringat. Sambil menggigil dekat perapian ia menceritakan apa yang telah dialaminya pada Pak Joey.
“Ah, kau pasti bermimpi buruk,” tukas Pak Joey tertawa.
Pak Roger sadar kalau keterangan lebih lanjut tentang pengalamannya yang menakutkan itu akan sia-sia. Pak Joey, tetap tidak akan percaya. Maka diam-diam ia memanjatkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Yang Maha Kuasa. Karena telah menyelamatkan dirinya dari bahaya yang hampir merenggut jiwanya. “Terima kasih, Tuhan,” ucapnya berulang-ulang.
Perburuan yang mereka lakukan di pagi itu, dilakukan Pak Roger tanpa semangat. Kejadian tadi malam telah membuatnya tidak dapat berkonsentrasi dengan baik.

Thursday, March 6, 2014

Green, Green, Green










BERSEPEDA


Oleh Endang Firdaus


Matahari bersinar terang
menerangi alam raya.
Langit cerah
tanpa awan.
Aku tahu hujan
tidak akan turun.
Cepat kuambil sepeda,
lalu melaju mulus
di jalan.

Aku suka bersepeda,
meluncur mengitari
tanah lapang.
Kring…, kring…
Kubunyikan bel.
Siuuut!
Aku menaiki bukit
kecil yang tinggi.
Aku merasakan
ketegangan.
Lalu, siuuut!
Aku meluncur
menuruni bukit itu.

Ah, asyiknya bersepeda.
Lebih asyik dari naik
kereta, lebih asyik
dari naik bus,
lebih asyik dari
naik mobil, naik
kapal laut.
Bahkan,
lebih asyik
dari naik
pesawat terbang.


Saturday, February 1, 2014

FAUNA-FAUNA

Referral Banners
Referral Banners

UNDUR-UNDUR, SI TUKANG MUNDUR

Oleh Endang Firdaus

Kalau kamu datang ke rumah-rumah di pedesaan yang lantainya tidak disemen, kamu akan menemukan lubang-lubang kecil yang permukaannya ditutupi debu. Bila debu kamu tiup, kamu akan menemukan seekor binatang kecil di dasar lubang.
Binatang itu adalah undur-undur. Nama Latinnya myrmelion frontalis. Tanah pasir, tanah berdebu, atau tanah beranjangan yang kering-kerontang, seperti lantai tak bersemen di rumah-rumah pedesaan, adalah tempatnya hidup.
Undur-undur selalu bergerak mundur. Namun, tak selamanya ia berbuat begitu. Ia bergerak mundur hanya pada saat menggali lubang atau menarik mangsa. Di luar lubang ia akan bergerak maju. Ia tahu tak ada gunanya mundur-mundur di tempat yang tidak seharusnya.
Undur-undur membuat lubang untuk menjebak mangsa. Besarnya kira-kira 5 cm. Dalamnya kira-kira 2 cm.
Bila lubang telah selesai dibuatnya, undur-undur akan diam membenamkan diri dalam pasir di dasar lubang untuk menunggu mangsa. Mangsanya berupa semut, kutu, dan thrips (serangga kecil penghisap daun). Undur-undur akan menunggu mangsanya dengan sangat sabar. Ia dapat tahan tanpa makan dan minum hingga berhari-hari.
Bila ada semut terperosok dalam lubang, dengan cepat undur-undur bertindak. Semut itu ditariknya. Akan terjadi tarik-menarik. Semut berusaha keluar dari lubang dan undur-undur berusaha menariknya ke dasar lubang. Undur-undur terus mundur menarik semut itu. Setelah semut itu tak berdaya, ia dengan buas menghisap cairan tubuh binatang itu.
Di dunia ada kurang lebih 4000 jenis undur-undur. Hampir seluruh hidupnya berada dalam bentuk larva. Baru setelah mendekati akhir-akhir hidupnya ia berubah menjadi pupa (kepompong), lalu menjadi inago (serangga dewasa) yang bentuknya mirip sekali capung.
Bedanya: Capung dimasukkan ke dalam ordo archiptera karena sayapnya sederhana. Serangga undur-undur dimasukkan ke dalam ordo neuroptera karena sayapnya berurat seperti gambar jaringan urat saraf. Antenanya pun tidak lurus seperti antena capung, tetapi bengkok di bagian ujungnya.
Seperti ketika sebagai larva, serangga undur-undur pun buas. Ia melakukan perburuan pada malam hari. Siang hari ia tidur-tiduran di bawah naungan dedaunan yang teduh.
Dari ribuan jenis undur-undur, tak satu pun yang mengganggu kehidupan manusia. Bahkan ada beberapa jenis undur-undur yang digunakan manusia untuk memberantas hama serangga pertanian.

Referral Banners

Friday, January 31, 2014

Kisah Nyata



Referral Banners


TERPERANGKAP DALAM BADAI

Diceritakan kembali oleh Endang Firdaus

“Badai Allen telah berputar ke utara dan akan berada di antara Jamaica-Cuba pada hari Kamis. Saat itu, angin akan bertiup dengan kecepatan 200 mil per jam. Diingatkan kepada semua kapal yang berada di perairan selekasnya berada di pelabuhan.”
Bob Harvey mendengarkar siaran radio itu dengan penuh perhatian di atas kapalnya. Ternyata laporan cuaca yang disiarkan kemarin salah. Badai tidak bergerak ke selatan. Harvey menjadi cemas. Ia naik ke kokpit dan katanya pada Barry Gittelman, “Kita akan berada dalam badai.”
Bagi Harvey, Gittelman, Matthew St. Clair, dan Mike Munroe, pelayaran yang tengah mereka lakukan, amatlah menyenangkan. Mereka telah melewati Selat Florida dan daerah Bahama, menuju tanah jajahan Inggris, Belize. Tiga hari sudah pelayaran mereka. Selama itu Harvey terus mengikuti perkembangan cuaca. Setelah laporan cuaca terakhir yang diikutinya, ia tahu harus secepatnya mereka mencapai pantai Jamaica. Kalau tidak, mereka akan terperangkap dalam Badai Allen yang ganas.
Tiba-tiba gulungan awan hitam yang cepat melintas rendah di permukaan laut. Harvey dan teman-temannya segera menurunkan kain layar dan menggerakkan kapal ke arah pantai Jamaica. Tak ada lagi senda gurau. Angin besar dan badai telah mengelilingi mereka.
Waktu keempat lelaki itu melihat batu karang di pantai Jamaica, tinggi gelombang telah mencapai 20 hingga 25 kaki. Dengan teropongnya Gittelman mempelajari pelabuhan Port Antonio. Tampaknya sukar sekali untuk mencapai tempat itu. Di dalam titik-titik hujan dan hembusan angin dilihatnya putaran angin menimbulkan gelombang besar. “Kita tidak dapat memasuki pantai!” Ia memberi tahu teman-temannya. “Kita akan hancur jika mencoba untuk ke sana. Kita harus bertahun di sini.”
Tiga jam kemudian, saat badai datang, mereka berada 20 mil dari pantai. Gittelman berusaha keras mengendalikan kapal. Air berhamburan ke kokpit, membuat basah Harvey dan Munroe yang tengah memasang tali penyelamat.
Badai kian menggila. Kapal terhempas tinggi, lalu dijatuhkan. Sebuah potongan balok menghantam dek hingga rusak. Pada tengah malam kecepatan angin semakin tinggi. Ombak semakin besar. Sungguh mengerikan. Tiba-tiba kapal diterbangkan ombak raksasa, dan dihantam angin yang amat keras. Harvey dan teman-temannya berpegang erat pada tali penyelamat. Tak lama kapal kembali turun. Munroe menangkap tangan Gittelman dan tanyanya, “Kau takut?”
Gittelman tersenyum kecut. “Tidak!” ucapnya.
“Baiklah. Kalau kau takut, beri tahu aku!”
Bagaimana kalau aku memasang radio untuk meminta bantuan? Gittelman berkata pada dirinya. Tidak. Panggilan itu tidak berguna. Tak akan ada yang menangkapnya sampai badai reda sama sekali.
Pada pukul 2 pagi hari Rabu kapal kembali berada pada puncak ombak besar, yang kemudian membantingnya ke bawah. Karena kehabisan tenaga, Gittelman kehilangan pegangannya pada kemudi. Ia tersungkur dan jatuh ke lantai. Untung ia masih bisa menangkap tali penyelamat, hingga ia tergantung di sisi kapal.
Harvey dan Munroe memburu ke arah Gittelman. Saat kapal oleng ke kanan, mereka telah berada di dekatnya. Sedikit demi sedikit mereka menariknya ke atas. Mereka berhasil membawanya ke dek. Kemudian membaringkannya di kokpit. Beberapa menit setelah itu, Gittelman bangkit dan memegang pundak Munroe. “Sekarang aku merasa takut,” ucapnya pelan. Ia lalu kembali pada kemudi.
Tak lama kemudian angin kembali menerjang kapal. Ombak semakin ganas, menghempaskan kapal tinggi sekali seakan terbang. Di kabin, St. Clair menghantam dinding ketika kapal jatuh kembali. Air memancar dari sisi kapal. Bergegas, ia membawa dirinya ke tempat pemancar radio. “Mayday! Mayday! Mayday!” teriaknya. Kemudian ia naik ke dek. Setiba di sana ia hampir tidak dapat mempercayai penglihatannya. Cahaya kecemasan memenuhi langit malam. Hujan menyapu wajahnya seperti hantaman butiran peluru. Suara petir, hembusan angin dan debur ombak, mengusik perasaannya. Tak ada pemisah antara langit dan laut. Semua tertutup oleh buih-buih putih.
Kini kapal dalam keadaan tenang. Namun bagian bawahnya telah penuh air dan siap untuk tenggelam. Gittelman, memberi tanda. “Kita harus secepatnya menyiapkan rakit penyelamat!” Ia berseru pada teman-temannya.
Dengan pisau lipatnya St. Clair memutuskan tali yang menggantung rakit penyelamat. Tiba-tiba, angin bertiup keras. Sepotong balok besar, menghantam bagian samping tubuhnya. Ia mendengar bunyi yang keras. Tulang rusuknya patah! Dirinya terluka. Namun tak ada waktu untuk memikirkan itu. Dengan langkah diseret ia mendorong rakit ke sisi kapal dan menurunkannya ke air dengan tali penyelamat.
“Ayo!” Gittelman berteriak. Ia melihat Harvey mendapat kesulitan. Harvey berseru pada teman-temannya agar jangan menghiraukannya. Ia menyuruh mereka segera bertindak, bahwa ia dapat menyelesaikan pekerjaannya. Gittelman sadar, mereka tak boleh ragu. “Ayo!” teriaknya. Dan satu demi satu ketiga lelaki itu melompat ke laut yang ganas dan naik ke rakit.
Ketika kapal mulai tenggelam, Harvey telah berhasil mengatasi kesulitan dan segera terjun ke laut. Ia mencari rakit, namun jarak dirinya dengan rakit itu terlalu jauh. Bahkan, kelihatannya akan semakin jauh. Munroe melihat, bahwa Harvey dalam bahaya. Diikatnya tali pada rakit. Memegang ujung tali yang lain, ia pun melompat ke air dan berenang ke tempat Harvey. Ketika Harvey hampir dihempaskan ombak, jemari Munroe berhasil menangkap tangan Harvey dan segera membawanya ke rakit.
Dari atas rakit keempat lelaki itu memperhatikan kapal mereka yang semakin tenggelam. Sementara angin dan ombak semakin mengamuk. Harvey dan teman-temannya benar-benar harus berjuang mempertahankan hidup. Tiba-tiba angin dan ombak berhenti mengamuk. Rakit terapung tenang. St. Clair menatap tajam ke atas. Bintang bergemerlap cerah. “Kawan-kawan,” cetusnya, “kita telah separuh terbebas dari badai yang sangat mengerikan. Kita masih harus waspada.”
Keempat lelaki itu memakan makanan yang masih ada. Mereka juga masih mempunyai 10 ons kaleng air segar, dua kaleng kecil kembang gula, sebuah senapan suar dengan delapan suar dan sebuah lampu sorot. Setelah selesai makan mereka mendengar deru angin yang mendekat. Kemudian ombak bergerak ke arah mereka dan menerjang rakit dengan dahsyat. Keadaan tampak lebih buruk dari sebelumnya.
Akhirnya, ketika fajar datang pada hari Rabu, kecepatan angin mulai menurun dan ombak mereda. Badai Allen yang ganas telah dihadapi Harvey dan teman-temannya. Namun, di mana kini mereka berada? Gittelman tahu mereka berada jauh dari batas pelayaran normal, dan sekurangnya 40 mil dari daratan terdekat. Lebih buruk, kapal mereka telah lenyap ditelan laut, sehingga kemungkinan orang mencari mereka amatlah tipis.
Semua merasa letih dan dingin. St. Clair, mengalami patah tulang rusuk. Gittelman dan Munroe sakit akibat terlalu banyak minum air laut. Munroe muntah darah, pertanda bahwa luka lama pada perutnya pecah kembali.
Menjelang sore, rakit bergerak tenang. Saat gelap datang, mereka mencoba tidur. Tetapi hembusan angin yang menerpa tubuh mereka menyebabkan mereka tak dapat tidur. Melihat Gittelman dan Munroe, St. Clair sadar kalau keduanya demam. Ia mengusap dada Munroe dan memberinya minum. Harvey melakukan hal yang sama pada Gittelman.
Ketika matahari muncul pada Kamis pagi, air mereka tinggal sedikit. Pada siang hari keempat lelaki itu dalam keadaan setengah sadar karena haus, lapar, letih, dan dingin. Segera sebelum gelap St. Clair terbangun mendadak. “Suara apakah itu?” gumamnya. Dengan penuh ketakutan, ia menatap ke sekeliling. “Aku tidak melihat apa-apa,” ucapnya. “Cahaya-cahaya itu hanya berasal dari bintang-bintang.”
Mereka telah menghabiskan air yang tersisa. Gittelman dan Munroe berada di luar sadar. Harvey tidur gelisah, kemudian bangun dan menatap lurus ke depan. Dilihatnya beberapa cahaya gemerlap. Tampak beda dari bintang-bintang. Namun, seperti lampu kapal yang berlarian. “Sekarang, aku yang berada dalam halusinasi,” pikirnya. Ia memperhatikan cahaya-cahaya itu beberapa lamanya dan tidak berani membangunkan yang lain. Kemudian, ia menggoyangkan St. Clair. “Aku kira di sana ada sebuah kapal,” ia berkata. “Coba lihat!”
Tanpa menjawab St. Clair mengambil senapan suar. Namun senapan itu telah kemasukan air. Akankah dapat bekerja? Ia mengarahkannya ke atas dan melepas tembakan. Ada satu ledakan menyengat. Dan detik berikut, langit malam terang benderang oleh sinar berwarna merah.
Cahaya-cahaya yang dilihat Harvey terus bergerak. Satu demi satu St. Clair menyalakan sisa suar yang tujuh. Berkata Harvey, “Aku kira … kapal itu sedang … berbalik perlahan!”
Dua puluh menit kemudian sebuah lampu pencari menembus kegelapan, mengarah pada keempat lelaki kurus di atas rakit yang terapung-apung. Dengan sinar lampu itu, mereka dapat melihat jelas nama kapal itu: Jastella. Sebuah kapal minyak Norwegia.
Harvey dan teman-temannya diangkut ke atas kapal dan dikirim ke sebuah rumah sakit di Pulau Cayman Brac, dekat Inggris. Keempatnya segera mendapat perawatan.
Setelah sembuh, mereka baru tahu kalau Badai Allen adalah badai kedua terkuat di samudera Atlantik. Badai ini menimbulkan kerugian lebih dari 300 juta dolar, serta membawa korban jiwa 236 orang. Namun keempat lelaki yang hanya dalam sebuah kapal kecil, berhasil selamat dari pembunuh yang mematikan itu. Sungguh suatu keajaiban!



Referral Banners

Thursday, January 2, 2014

Kisah Nyata



Referral Banners


SANG PENYELAMAT

Diceritakan kembali oleh Endang Firdaus

Hari itu hari Selasa, akhir September 1984. Pak Collins dibantu anak lelakinya, Alf, telah selesai mengerjakan tanah pertaniannya yang luas. Tanah itu letaknya di daerah Belah Valley, 375 mil arah barat laut kota Brisbane, Australia. Alf berusia sembilan tahun.
Kini mereka berada di atas truk menuju rumah mereka. Di antara mereka duduk ketiga anak perempuan Pak Collins. Mereka adalah Vashti, Dallas, dan Jemms. Ketiganya adalah adik Alf.
Ketika sudah tak seberapa jauh dari rumah mereka, Pak Collins ingat pada babi hutan yang ditemuinya kemarin sore. Alf juga melihat babi hutan itu. Hewan itu menerobos semak-semak yang rimbun dan membuat debu beterbangan.
Pak Collins merasa cemas. Sebab dia belum pernah melihat babi hutan di daerah itu. Katanya kepada Alf, “Babi hutan itu dapat menyebarkan bibit penyakit, merusak parit, dan membuat air minum kotor. Kita harus segera membunuhnya.”
Sambil mengemudikan truk, Pak Collins memikirkan cara menumpas babi hutan itu. Tak lama, wajahnya tampak ceria. Ia teringat pada bangkai sapi yang dilihatnya tadi pagi, tak jauh dari rumahnya.
Pak Collins menghentikan truknya. Ia mengajak Alf melihat bangkai sapi itu. Ia percaya, bangkai sapi itu bisa menjadi umpan untuk menjebak si babi hutan.
Pak Collins dan Alf meninggalkan ketiga anak perempuan di truk. Lalu mereka menerobos semak belukar yang rimbun, menuju ke tempat bangkai sapi.
Tiba-tiba Pak Collins mendengar suara gemersik dari arah depan. Tak lama, ia melihat seekor babi hutan yang besar muncul. Matanya memandang dengan garang, mulutnya terbuka, sehingga tampak taringnya yang tajam. Babi itu menerjang Pak Collins dan Alf.
Pak Collins tak sempat mengelak ketika babi hutan menabraknya. Taring hewan itu melukai kakinya. Sambil kepalanya naik turun, babi hutan mendekati Pak Collins yang terjatuh sambil menahan rasa nyeri. Babi hutan itu menggigit sepatu but Pak Collins yang sebelah kiri. Ketika menerjang untuk kedua kalinya, taring babi hutan itu melukai lengan kanan Pak Collins. Taring yang lain merobek betisnya. Darah merah segera membasahi celana jeans Pak Collins.
Pak Collins belum pernah berkelahi dengan babi hutan. Ia berusaha melindungi kepala dan dadanya dari serbuan si babi hutan. Ia lalu mencoba melawan. Ditangkapnya kepala babi hutan itu, namun tenaga hewan itu sangat kuat. Perlawanan Pak Collins tak ada gunanya. Tubuhnya telah bersimbah darah. Tenaganya mulai melemah. Pak Collins benar-benar cemas.
Keadaan Pak Collins sungguh menyedihkan. Yang dapat dilakukannya hanya minta pertolongan kepada orang lain di dekatnya. Orang itu cuma Alf.
Alf berhasil menghindari serangan babi hutan itu. Ia kini bersembunyi di balik pohon besar, sambil memperhatikan perlawanan yang dilakukan ayahnya. Kemudian ia mendengar teriakan kesakitan dan ketakutan ayahnya. “Oh… tolonglah, Alf! Tolong, tolong!”
Dengan cepat, Alf menyambar sebuah dahan pohon besar di dekatnya. Lalu cepat-cepat ia mendekati arena perkelahian. Sambil berteriak keras, ia menghantam dahan pohon itu ke kepala babi hutan. Babi hutan berhenti mengamuk. Tetapi, tak lama ia mencoba menyerang Pak Collins lagi. Alf kembali menghantam dahan pohon ke tubuh hewan itu dua kali. Si babi hutan terdiam, lalu berbalik ke Alf. Pak Collins bertambah cemas melihat hal itu.
Alf telah siap dengan dahan pohonnya. Tiba-tiba si babi hutan berbalik. Dengan kepala yang bergoyang-goyang, ia pergi menjauh, lenyap di balik semak-semak yang rimbun.
Pak Collins menarik napas panjang. Ketika tubuhnya hendak roboh, mendekati tidak sadar, Pak Collins cemas lagi. Ia ingat pada anak-anaknya yang lain. Bagaimana dengan mereka? Apakah mereka masih berada di truk?
Pak Collins berusaha bangkit. Dibantu oleh Alf dia berdiri. Bersama-sama, mereka menerobos semak belukar, dengan perasaan sangat cemas.
Oh … semua anaknya selamat! Alf membantu ayahnya duduk di bangku truk dan mengambil alih kemudi. Dalam lima menit, mereka tiba di halaman rumah mereka. Bu Collins segera memberi perawatan pertama kepada suaminya, sebelum dibawa ke rumah sakit yang berjarak 80 mil di Rochampton. Di sana para jururawat memberi Pak Collins tambahan darah. Dokter bedah menjahit luka-luka di tubuhnya.
Beberapa bulan kemudian, Pak Collins pun sembuh. Ia benar-benar bangga mempunyai anak pemberani seperti Alf. Untuk keberaniannya Alf memperoleh penghargaan dari Ratu Elizabeth, Ratu Inggris, berupa Bintang Keberanian, yakni medali emas Royal Humane Society dan Rupert Wilkes Trophy.



Referral Banners

Monday, December 16, 2013

Seri Putri Nusantara dan Seri Pangeran Nusantara



Judul: NUKILA, RATU PEMBERANI
Penulis: Endang Firdaus
Penerbit: Bentang Belia
Harga: Rp. 38.000



Judul: UJIAN UNTUK PANGERAN
Penulis: Endang Firdaus
Penerbit: Bentang Belia
Harga: Rp. 38.000

Thursday, December 12, 2013

MOTHERHOOD SHOULD BE A DIRTY WORD


By Endang Firdaus


Some girls do not want to be mothers, especially those in business. According to them, becoming a mother is not easy., and they do not want their duties in business obstructed by the activities of a mother.
Certainty being a mother is not easy. A mother must be wise, patient, gentle, and economical. She must be strong. A creative mother is required in a family. She must be able to set a good example for the members of the family, especially her children so that her family will be a good one.
A mother must have broad insights in carrying out her duties. She has to be wise and patient. She should be broad-minded. She should think things over an over and then do them. In that way, there will not be problems in her family, and she and her family will live peacefully. The happiness of a mother will always be reflected in her family.
A good mother must be economical in the family finances. Money must not be wasted. She must know how to use the money to its best advantage, so that the family financial situation is harmonious.
The nature of a mother must be gentle. She must do all of her duties carefully. There should be no indecency in her life. Her way of life, her habits and behaviour must be good, so she will set a good example for her family, and also for the public in general.
Becoming a mother, of course, is not easy. A girl who wants to be a mother must be prepared. She must know how to discriminate between the duties of a mother and business duties, so that she will be successful as a mother and as a businesswoman.
Becoming a mother is a noble duty. Girls need not be ashamed of becoming a mother. They need not be afraid of losing their virginity to their husbands because becoming a mother is noble. If girls are conscious about the functions of a mother, motherhood need not be a dirty word. (Published on Hello English Magazine No. 38, January 1989)